Latest Updates

Jokowi-Ahok Dapat Dukungan Dari Petinggi NU


Jokowi-Ahok mendapatkan dukungan dari petinggi NU di Timur tengah. Petinggi Nahdlatul Ulama (NU) Habib Mohsin Al Habsi yang merupakan koordinator Nahdlatul Ulama Timur Tengah, dengan tegas mengatakan dukungannya terhadap pasangan calon gubernur DKI Jakarta Jokowi-Ahok padaPemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta Putaran kedua nanti.
"Saya mendukung Jokowi dan mendoakan agar terpilih menjadi Gubernur DKI", ujar Habib Mohsin Al Habsyi.

PDI Perjuangan Korwil Arab Saudi menilai dukungan yang diberikan tersebut merupakan salah satu kebanggaan tersendiri, terlebih lagi melihat dukungan tersebut dilontarkan langsung secara tegas oleh salah satu tokoh agama yang disegani sekaligus salah satu petinggi Nahdlatul Ulama (NU).



"Habib Mohsin Al Habsyi  sebagai tokoh yang disegani di Arab Saudi dan berpengaruh di kalangan  Nahdlatul Ulama di Timur Tengah serta hubungannya dengan tokoh-tokoh agama di Indonesia sudah tak diragukan lagi," ujar Plt.Ketua Korwil Sharief Rachmat.

Pihak PDIP mengaku sudah menghubungi Habib Mosin Al Habsyi serta menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan yang di berikan kepada pasangan calon Gubernur Jokowi-Ahok yang merupakan pasangan calon yang diusung oleh PDIP.

Selain itu, Sharief juga menambahkan, GP anshor tidak terpengaruh dengan adanya "isu SARA" yang sempat menghantam pasangan calon gubernur DKI Jakarta yang diusung oleh PDIP Jokowi-Ahok, demikian juga dengan Gusdurian.

Sumber : http://www.jawa-barat.com

TAUFIK KIEMAS SARANKAN JOKOWI-AHOK DATANGI NU DAN MUHAMMADIYAH


Politikus senior PDI Perjuangan Taufiq Kiemas (TK) menyarankan pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) berkeliling mendatangi organisasi massa Islam Nahdlatul Ulama (NU)dan Muhammadiyah. Itu agar isu bernuansa suku, agama, ras, dan antar-golongan atau SARA tak berguna lagi.


"Jadi keliling saja. Jadi main isu SARA itu enggak perlu lagi. Saya rasa sekarang ini Pak Jokowi keluar, jangan mengurusi isu SARA saja," kata Taufiq Kiemas di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (8/8).





Menurut Kiemas, Jokowi-Ahok harus hati-hati menghadapi pemilihan kepala daerah DKI Jakarta putaran kedua. Apalagi Jakarta adalah ibu kota Indonesia. Ke depan, Jokowi-Ahok harus membicarakan program. Jangan melulu terlibat isu SARA.


"Ini kan tidak pernah dibicarakan program. Bicarakan program, harus. Kita tidak membicarakan program terlibat isu itu terus, berat. Dia kan tokoh pembaharuan, bukan terlibat isu SARA," kata Kiemas.

Sumber : metrotvnews.com

NU No Problem Jokowi-Ahok Pimpin Jakarta


JAKARTA - Pro kontra dua kubu calon gubernur DKI Jakarta makin memanas dengan isu keimanan. Terlebih setelah raja Dangdut Rhoma Irama terjerat perkara dugaan menyebarkan isu bernuansa suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) yang menyudutkan salah satu kandidat. 

Di tengah polemik ini Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj melontarkan sebuah gagasan moderat. Menurut dia, faktor utama yang harus dipertimbangkan dalam memilih calon pemimpin adalah faktor keadilan. Musababnya, pemimpin nonmuslim yang adil tentu lebih baik ketimbang pemimpin muslim yang dholim. 

"Yang ngomong itu bukan saya, tapi Ibnu Taimiyah dalam kitabnya. Jadi, NU no problem Jokowi-Ahok memimpin Jakarta. Ini bukan bentuk dukungan, tapi kita juga tidak keberatan pemimpin nonmuslim menang," ujar Kang Said di Kantor PBNU, Kramat, Jakarta Pusat, Sabtu (11/8/2012) malam.


Komitmen terhadap multikulturalisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, menurut Kang Said, juga harus dikedepankan. Tentu saja dengan sokongan nasionalisme. Pasalnya, Indonesia terdiri dari berbagai suku dan latarbelakang budaya yang beragam. 

Karena itu, dia kembali menekankan, alangkah baiknya seorang pemimpin nonmuslim tapi memiliki rasa keadilan bersama rakyatnya ketimbang pemimpin dzolim yang berasal dari kalangan muslim. 

"Jauh lebih baik jika pemimpinnya adil meskipun nonmuslim agar rakyat yang mayoritas muslim juga akan merasakan keadilan," tegasnya. Sebaliknya, bila pemimpinnya dzolim bisa dipastikan rakyat bakal menderita.

Dua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta yang akan bertarung di putaran dua pada 20 September mendatang, yaitu Fauzi Bowo-Nachrawi Ramli dan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama telah sowan ke PBNU beberapa waktu lalu. Namun, kepada kedua pasangan calon, KH Said Aqil menegaskan NU akan tetap netral di Pilkada DKI Jakarta. “Siapa pun boleh datang meminta dukungan ke NU, tapi sikap politik NU tetap netral,” tegasnya.

PB NU: Jika Menang, Silakan Jokowi-Ahok Pimpin Jakarta


Terkait permasalahan isu Suku, Ras dan Antargolongan (SARA) yang akhir-akhir ini berhembus pada pemilihan gubernur DKI Jakarta, Ormas Islam terbesar di Indonesia Nahdlathul Ulama (NU) menyatakan tidak ada masalah seorang non-muslim menjadi gubernur DKI Jakarta.
"Keadilan bersama pemimpin non-muslim jauh lebih baik daripada kedzaliman bersama pemimpin muslim sendiri," kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siraj yang mengutip Ibnu Tamiyah dalam kitab Fiqh Khusyatah di Kantor Pusat PBNU, Jakarta Pusat, (11/08/2012).
KH Said Aqil Siraj mengatakan, seorang pemimpin non-muslim yang adil maka akan berbuat adil terhadap muslim itu sendiri, sebaliknya jika pemimpin Islam yang berlaku dzalim maka rakyat Islam nya pun akan didzalimi.
"Artinya Jokowi dan Ahok jika menang silahkan saja memimpin DKI, NU tidak keberatan," ujarnya.
Bentuk penyataan ini buka sebuah bentuk dukungan, tetapi NU hanya menyatakan jika tidak ada masalah bagi Non Muslim yang akan memimpin DKI Jakarta. "Tidak ada problem, bagi non muslim menang pemilukada DKI, dan silahkan saja memimpin DKI Jakarta,"tukasnya.

Jusuf Kalla: Jokowi itu NU


CARIKABAR.COM - Ini pembelaan Jusuf Kalla untuk Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok), duet yang memenangi putaran pertama Pilkada DKI Jakarta, 11 Juli 2012. Mantan Wakil Presiden RI itu memastikan Ibu Kota Negara kita, DKI Jakarta pernah dipimpin nonmuslim, bahkan sebagai gubernur.
"Jakarta juga pernah dipimpin oleh orang Kristen, dia adalah Henk Ngantung, dia gubenur," ujar Jusuf Kalla di kediamannya di Jakarta Selatan, Minggu, 5 Agustus 2012.
Isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) memang meningkat tajam menjelang perhelatan Pemilukada DKI Jakarta putaran kedua, 20 September mendatang. Isu itu sempat menghantam Jokowi-Ahok. Kebetulan, Ahok yang berdarah Tionghoa, memang nonmuslim.
Menurut Jusuf Kalla, Indonesia bukanlah negara dengan dasar agama tertentu, melainkan berlandaskan Pancasila yang mengakui adanya lima agama. Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia itu juga mengungkapkan, Indonesia pernah memunyai sembilan pemimpin daerah beragama non-Islam. "Selama itu pula tidak ada masalah SARA. Menurut saya ini kita kembali ke negara Pancasila yang menerima perbedaan."

Saat JK mendengar isu Jokowi seorang nonmuslim, ia langsung mencari tahu. "Saya sampai cari tahu Jokowi ini sekuler, Muhammadiyah atau NU. Akhirnya saya telepon teman, ternyata Jokowi itu NU."
Jokowi mengaku sejak awal ingin mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI Jakarta, JK yang mendukungnya. Ia mengaku sempat menyembunyikan adanya dukungan ini dari publik. "Karena secara etika kan enggak benar, Pak JK kan dari Golkar, sedangkan Golkar ada calonnya." Di putaran pertama Golkar mendukung pasangan Alex Noerdin-Nono Sampurno.
Di luar itu, Jokowi merasa dukungan-dukungan dari para tokoh kepada dirinya tidak perlu diumbar ke publik. "Masa seperti itu harus diungkap-ungkapin.

Sumber : http://www.carikabar.com

NU: Syiah Tidak Sesat, Hanya Berbeda

NU: Syiah Tidak Sesat, Hanya Berbeda

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menilai aliran Islam Syiah secara umum bukan merupakan aliran sesat. "Tidak sesat, hanya berbeda dengan kita," kata Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siradj, di kantor kepresidenan, Jakarta, Selasa 28 Agustus 2012.

Menurut dia, Syiah merupakan salah satu sekte Islam yang sudah ada sejak 14 abad lalu. Sekte ini pun ada di berbagai belahan bumi, termasuk Indonesia. "Pusatnya memang di Iran," ujar Said.

Ihwal fatwa haram dan sesat yang dikeluarkan ulama di Sampang, Said menjelaskan, fatwa tersebut ditujukan oleh ulama di sana untuk aliran Syiah yang diusung Tajul Muluk. "Yang sesat itu aliran Tajul Muluk, Syiah-nya Tajul Muluk. Bukan Syiah secara keseluruhan," ucapnya.

Sebelumnya, pengamat sosial politik Bambang Budiono mengatakan fatwa haram dan sesat Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang Syiah menjadi salah satu pemicu konflik kekerasan di Sampang.

Fatwa tersebut adalah fatwa MUI Kabupaten Sampang, Provinsi Jawa Timur dengan nomor: A-035/MUI/spg/2012 tentang kesesatan ajaran Syi�ah. Ajaran ini disebarluaskan oleh saudara Tajul Muluk di Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang. Fatwa tersebut menegaskan, aliran yang dibawa Tajul Muluk itu sudah dikenal sejak 2004-2005 di daerah tersebut. Ajaran tadi dinilai sudah menyimpang dari ajaran Islam.

Kekerasan terhadap komunitas Syiah kembali terjadi di Kabupaten Sampang, Madura. Sekitar 200 warga anti-Syiah menyerbu permukiman milik komunitas Syiah di Dusun Nangkernang, Desa Karanggayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, Jawa Timur, Ahad pagi, 26 Agustus 2012. Mereka melempari rumah dengan batu.

Aksi tersebut dibalas pemuda Syiah sehingga bentrokan pun tak terhindarkan. Setidaknya dua penganut Syiah tewas akibat sabetan celurit. Sekitar 10 rumah juga terbakar. "Kerugian lain belum tahu karena kami masih bersembunyi," kata sumber berinisial HI, yang enggan menyebut nama lengkapnya.

Pembakaran rumah milik warga Syiah bukan pertama kali terjadi di Sampang. Sebelumnya, akhir Desember tahun lalu, massa anti-Syiah membakar rumah Tajul Muluk, pemimpin Syiah Sampang. Tajul tengah menjalani vonis dua tahun penjara dalam kasus penodaan agama.

Sumber : yahoo.com

Ketua PBNU: Syiah Bukan Aliran Sesat

Ketua PBNU: Syiah Bukan Aliran Sesat

JAKARTA - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj menegaskan, NU tidak pernah memandang Syiah sebagai aliran sesat.
NU dan Syiah yang selama ini hidup berdampingan di Indonesia, menurut Said adalah bukti tidak adanya konflik NU dan Syiah.
"Apalagi, Syiah merupakan salah satu sekte Islam yang sudah berdiri sejak 14 abad lalu di dunia," ujarnya saat konferensi pers di Istana Negara, Jakarta, Selasa (28/8/2012).
Dalam kenyataannya, lanjut Said, ada perbedaan mazhab antara NU dengan Syiah. Namun, perbedaan tersebut bagi NU tidak bisa dijadikan alasan untuk saling menyerang.
"Bukan aliran sesat, hanya beda dengan kita. Tidak benar jika penyerangan mengatasnamakan NU. NU tidak pernah mentoleransi kekerasan dengan alasan apapun. Itu jelas keluar dari prinsip-prinsip NU dan ahlussunah waljamaah," papar Said.

Sumber : yahoo.com

Ormas Islam Pelopor Kemerdekaan Malah Terpinggirkan

Ormas Islam Pelopor Kemerdekaan Malah Terpinggirkan
Ketua Umum Pengurus Ormas Islam Besar Mathlaul Anwar (PB MA) KH Syadeli Karim mengatakan organisasi masyarakat (ormas) Islam yang menjadi pelopor kemerdekaan, namun keberadaannya justru terpinggirkan karena pemerintah lebih memberikan perhatian lebih pada keberadaan partai politik.

"Saat ini, pemerintah lebih memberikan keistimewaan terhadap partai daripada ormas, padahal ormas Islam yang sejak awal sudah gencar dalam upaya merebut kemerdekaan. Akibatnya, agama semakin termarjinalkan, dan politik didewakan," kata KH Syadeli Karim, saat halal bihalal dan diskusi kemerdekaan di Serang, Senin.

Menurut dia, saat politik yang dibesar-besarkan, nilai-nilai kemerdekaan yang seharusnya dapat menjaga kerukunan umat beragama terpinggirkan. Padahal seharusnya, kata dia, nilai-nilai tersebut menjadi acuan kebersamaan, untuk menghapus penjajahan manusia terhadap manusia lainnya.

Ia menjelaskan, fakta sejarah menunjukkan kemerdekaan Republik Indonesia sumbangan terbesarnya dari ulama dan santri. Sebabnya pergerakan kemerdekaan, terutama di wilayah Banten dipelopori kalangan pesantren melalui jaringan tarekatnya, seperti KH Wasyid tokoh geger Cilegon, Syeikh Asnawi Caringin, dan Abuya Mukri di Labuan dan lain sebagainya.

"Mereka berangkat dari pesantren dan surau-surau, kemudian bersatu berjuang mengusir penjajah," kata Sadeli dalam diskusi yang diselenggarakan koalisi pergerakan Banten..

Sementara Ketua Umum Majlis Pesantren Salafiyah (MPS) Banten, KH Matin Syarkowi mengatakan, kerangka Indonesia merdeka bukan dari parpol merupakan fakta sejarah. Indonesia menjadi negara merdeka, sumbangan terbesar dari ulama dan santri. Namun demikian, justru ada pembelokan sejarah yang dilakukan oleh Orientalis Snock Hurgronje, dengan mengganti istilah ulama dan santri dengan pedagang dan petani.

"Dahulu yang Belanda takuti adalah gerakan `underground` yakni gerakan tarekat Qodariyah naqsabandiyah karena memiliki pengikut yang taat terhadap guru dan terorganisasi dengan bagus," kata Matin.

Menurut dia, ketidakpahaman terhadap sejarah kemerdekaan RI, akan berbahaya bagi generasi muda. Sebab nantinya akan mengikis nilai-nilai keindonesiaan yang semakin hari tergerus oleh budaya asing yang gencar masuk melalui tayangan media.

Sedangkan pengamat sejarah, Nadjmudin Busro mengatakan, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan hasil "jerih payah para pendahulu yang telah lama berjuang" membela kemerdekaan jauh sebelum proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945.

Menurut dia, yang paling pertama menggelorakan pergerakan pemuda sebegai pelopor pergerakan untuk kemerdekaan bukan Budi Utomo pada 1908, tapi Sarekat Dagang Islam (SDI) pada 1905.

"Para tokoh muda dan kalangan ulama mewarnai perjuangan kemerdekaan RI. Waktu itu, para ulama bermimpi agar umat Islam bersatu padu dalam melawan penjajahan," kata Najmudin Busro.

Oleh karena itu, kalangan ulama dan pemimpin ormas Islam saat ini harus bersatu kembali dalam mengisi kemerdekaan, menata kembali kebersamaan dalam kerangka keislaman yang rahmatan lilalamiin di dalam NKRI yang berlandaskan Pancasila. 

Halal Bihalal dan Seminar Kebangsaan tersebut dihadiri puluhan peserta dari kalangan mahasiswa dan para santri di Provinsi Banten. 

Sumber : www.nu.or.id

Kelompok konservatif meledakkan satu makam tokoh Sufi

Kelompok konservatif meledakkan satu makam tokoh Sufi



Kelompok konservatif meledakkan satu makam tokoh Sufi Abad Ke-15 dan membakar satu perpustakaan di Kota Zlitan, Libya, kata seorang pejabat militer, Sabtu (25/8), serangan paling akhir terhadap berbagai tempat yang dicap sebagai musyrik di wilayah tersebut oleh sebagian kelompok.



Para penyerang, Jumat (24/8), menggunakan bom dan buldozer untuk menghancurkan kompleks yang dipandang suci yang meliputi makam Abdel Salam al-Asmar dan memusnahkan ribuan buku di Perpustakaan Masjid Asmari, kata beberapa saksi mata dan pejabat Dewan Militer Zlitan Omar Ali.



Kubu fanatik, banyak di antara mereka jadi berani karena aksi perlawanan Arab Spring, telah mengincar sejumlah tempat milik masyarakat Sufi di Libya, Mesir dan Mali dalam satu tahun belakangan.



Serangan tersebut juga telah mengingatkan orang mengenai peledakan pada 2001 oleh Taliban terhadap patung Buddha di Bamiyan, Afghanistan tengah.



Serangan Jumat terjadi setelah dua hari bentrokan antara faksi suku di Zlitan, yang menewaskan dua orang dan melukai 18 orang lagi, demikian perhitungan Dewan Militer.



"Kaum Salafi memanfaatkan kenyataan bahwa pejabat keamanan sedang sibuk meredakan bentrokan dan mereka menghancurkan tempat suci," kata Ali kepada Reuters, Ahad pagi. Ia merujuk kepada kelompok konservatif yang memandang banyak tempat suci kaum Sufi sebagai musyrik.

Sumber : www.nu.or.id

Ziarah Walisongo


Ziarah Walisongo adalah perjalanan ziarah atau berkunjung dan berdoa di makam sembilan wali yang menyebarkan agama Islam di Nusantara. Lima makam wali berada di wilayah Jawa Timur, tiga makam di antaranya berada di Jawa Tengah, dan satu makam di Jawa Barat.

Berikut ini lokasi makam Walisongo. Pertama, Sunan Maulana Malik Ibrahim.Makam ini terletak di kampung Gapura di dalam kota Gresik di Jawa Timur, tidak jauh dari pusat kota.


Kedua, Sunan Ampel. Makam Sunan Ampel terletak di kampung Ampel di kota Surabaya. Di depan makam ada dua pintu gerbang besar bergaya Eropa. Makamnya terpisah dengan dari makam lainnya dan diberi pagar teralis dari besi setinggi 110 cm. 



Ketiga, Sunan Bonang. Sunan Bonang dimakamkan di komplek pemakaman Desa Kutorejo, Kecamatan Tuban di kota Tuban. Posisinya di sebelah barat alun-alun kota Tuban, di sebelah barat Masjid Agung Tuban. Makam Sunan Bonang dikelilingi tembok dengan empat buah pintu gerbang untuk masuk ke komplek makam.




Keempat, Sunan Giri. Tokoh Walisongo yang bergelar Prabu Satmata ini makamnya terletak di sebuah bukit di Dusun Kedhaton, Desa Giri Gajah Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik. Kompleks makam ini berupa dataran bertingkat tiga dengan bagian belakang paling tinggi.



Kelima, Sunan Drajat. Makam Sunan Drajat berada di daerah Drajat Lamongan yang dapat ditempuh dari surabaya maupun Tuban lewat Jalan Dandeles (Anyer - Panarukan).  Namun bila lewat Kota Lamongan dapat ditempuh 30 menit dengan kendaran pribadi. 



Keenam, Sunan Muria. Makam Sunan Muria di Desa Colo, Kecamatan Dawe. Ziarah ke makam Sunan Muria yang berjarak sekitar 30 kilometer arah utara dari KMMK (Kompleks Masjid Menara Kudus). 



Ketujuh, Sunan Kudus. Ja‘far Shadiq atau Sunan Kudus dimakamkan di Masjid Menara Kudus yang terletak di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah. Di samping puluhan makam di kawasan itu terdapat pula makam putra Sunan Kudus yaitu Pangeran Palembang. Makam Sunan Kudus sendiri terdapat di tengah-tengah bangunan induk berbentuk joglo. 



Kedelapan, Sunan Kalijaga. Makam Sunan Kalijaga terletak di tengah kompleks pemakaman Desa Ngadilangu yang dilingkari dinding dengan pintu gerbang makam. Area makam Sunan Kalijaga di dalam Kota Demak berjarak sekitar 3 KM dari Masjid Agung Demak.



Kesembilan, Sunan Gunung Jati. Inilah satu-satunya makam wali di Jawa Barat yang paling ramai dikunjungi. Kawasan makam Sunan Gunung Jati terletak di desa Astana, kecamatan Cirebon Utara, sekitar 6 km dari Kota Cirebon yang dilintasi jalur Cirebon-Indramayu.



Sebagian peziarah dari berbagai daerah memilih mendatangi makam Sunan Ampel di Surabaya terlebih dahulu sebelum ke makam wali lainnya. Beberapa peziarah meyakini Sunan Ampel sebagai wali yang paling alim (‘alimul awliya’). 



Dari makam Sunan Ampel selanjutnya peziarah melakukan perjalanan berturut turut ke makam Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri di Gresik, Sunan Drajat di Lamongan, Sunan Bonang di Tuban, Sunan Kalijaga di Demak, lalu langsung ke Gunung Jati, selanjutnya ke makam Sunan Muria di Muria dan berakhir di makam Sunan Kudus di Kudus.



Peziarah lainnya menempuh perjalanan ziarah dari makam Sunan Kalijaga memilih langsung ke makam Sunan Muria dan Sunan Kudus baru ke makam Sunan Gunung Jati. Rute lainnya dambil dari arah barat pulau Jawa berturut-turut dari Sunan Gunung Jati, lalu Sunan Muria, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Bonang,  Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Maulana Malik Ibrahim, dan berakhir di makam Sunan Ampel.



Perjalanan ziarah Walisongo juga sering dirangkai dengan ziarah ke makam wali, ulama atau tokoh sejarah lainnya yang berdekatan dengan lokasi makam ke sembilan wali. Rute Ziarah Walisongo biasanya tidak hanya tertuju pada sembilan wali saja. 
Sembilan makam wali itu menjadi tujuan utama, kemudian para peziarah biasanya singgah ke makam-makam wali atau orang-orang salih lainnya yang berdekatan dengan lokasi makam sembilan wali itu. Beberapa peziarah juga menganggap cukup berziarah ke satu atau dua wali saja yang termasuk dalam kategori Walisongo, kemudian mereka melengkapi ziarah ke tujuh makam lain sehingga jumlahnya mencapai sembilan makam.



Makam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang wafat pada pada akhir 2009, dan makam para pendiri Nahdlatul Ulama (NU) di Tebuireng Jombang, menjadi salah satu makam terpenting yang dikunjungi dalam rangkaian perjalanan ziarah Walisongo. 



Selain itu juga ke makam Syekh Jumadil Kubro di Troloyo, ke Mbah Sayyid Sulaiman di Mojoagung, atau ke makam KH Wahab Chasbullah di Tambakberas Jombang, makam KH Musta’in Romli di Peterongan Jombang, dan makam KH Bisri Syansuri di Denanyar Jombang. (A. Khoirul Anam)

Sumber : www.nu.or.id